BAPAK PENDIDIKAN NASIONAL



KI HADJAR Sebuah Memoar
Oleh M Syifaut Tamam
            Aku benar-benar tak sanggup menyaksikan anak-anak yang polos itu dirampas kebebasannya dalam menuntut ilmu. Sistem pendidikan kolonial yang berdasarkan pada budaya Barat, jelas-jelas tidak sesuai dengan kodrat alam anak-anak Indonesia. Sistem pendidikan kolonial yang cenderung memaksa dan memberikan ancaman hukuman harus diganti dengan jalan memberikan kemerdekaan dan kebebasan berpikir yang seluas-luasnya kepada para peserta didik, dengan tetap memperhatikam tertib damainya hidup bermasyarakat. Berikut adalah sebagian kutipan dari pemikiran Raden Mas Soewardi atau yang lebih dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar merupakan salah seorang diantara bapak bangsa dan pahlawan nasional. Semasa hidupnya beliau dikenal sebagai aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi dan yang paling utama beliau adalah pelopor pendidikan untuk kalangan inlander (pribumi) sejak pemerintahan Hindia Belanda. Kiprahnya didunia pergerakan sangat gilang gemilang dan terbilang sangat berani. Beliau mempunyai watak yang keras dan berpegang pada prinsip meskipun mempunyai badan yang kurang kuat dan goyah tidak menghalangi beliau untuk melakukan aksi kolumnisnya.
            Soewardi (Ki Hadjar) dilahirkan pada hari kamis 2 Mei 1889 M. anak kelima dari sembilan bersaudara. Beliau termasuk keturunan dari keluarga besar Puro Pakualaman yang mempunyai darah ningrat, maka beliau mendapatkan gelar kebangsawanan Raden Mas Soewardi. Nama Soewardi ini memiliki cerita yang cukup menarik. Pada suatu hari , Harjo Soerjaningrat (ayah Ki Hadjar) sangat senang karena dikaruniai anak laki-laki. Namun ayahnya sempat merasa kecewa ketika melihat kondisi bayi laki-laki yang dilahirkan oleh ibu Sandijah itu sangat kecil dan lemah. Beratnya kurang dari tiga kilogram dan perutnya sangat buncit. Kekecawaan ayah semakin bertambah-tambah ketika mendengar tangis bayi laki-laki itu sangat pelan. Sabagai orang yang beriman kepada Allah, ayah menerima apapun keadaan bayi itu dengan penuh rasa syukur. Meskipun kondisi bayi itu sangat lemah dan jauh dari harapan , tapi ayahnya tetap menganggap bayi laki-laki itu sebagai nikmat dan amanah dari Allah, sehingga Ayahnya memiliki kewajiban untuk menjaga dan merawatnya. Untuk mengobati kekecewaannya, maka ayahnya memberi paraban (julukan) dengan sebutan jemblung karena kondisi soewardi pada saat itu sangat kecil, berperut buncit dan ringkih. Selang beberapa hari ayahnya membawa ke Kyai Haji Soleman Abdurrohman, pengasuh Pondok Pesantren di daerah Kalasan, Prambanan. Lantas Kyai Haji Soleman memberikan paraban dengan sebutan Trunogati jadi nama kecil dari Soewardi pada waktu itu adalah Raden Mas Jemblung Trunogati.
            Masa kecil Soewardi sangat dekat dengan kaum inlander, oleh karena itu beliau sangat kecewa dengan kebijakan pemerintah Governemen Hindia Belanda yang sangat memihak kepada kaum bangsawan. Pendidikan hanya dapat dienyam oleh kaum berdarah ningrat dan nantinya yang akan menjadi buruh adalah kaum inlander. Hal inilah yang membuat Soewardi geram dan seakan-akan ingin sekali menyakar Governemen Hindia Belanda. Soewardi dari kecil sudah mendapatkan benih-benih religi inilah yang akan menjadi bekal bagi beliau dalam memutuskan kebijakan-kebijakan kelak. Kyai Haji Soleman Abdurrohman inilah yang menjadi murobi beliau mulai dari membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan mendalami ajaran islam. Setelah dirasa cukup dalam ilmu agamnaya, Soewardi kembali ke Puri untuk melanjutkan pendidikan secara formal di ELS ( Europeesche Lagere school) Bintaran. Setelah itu beliau melanjutkan pendidikan ke STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) atau sekolah kedokteran melalui jalur beasiswa yang didapatkan dari dr. Wahidin Soedirohoesodo untuk kaum priyayi yang memiliki kemampuan lebih.
            STOVIA inilah menjadi gerbang awal bagi Soewardi untuk terjun di dunia pergerakan. STOVIA tidak seperti sekolah milik Governemen Hindia Belanda yang lainnya, seluruh siswa yang bersekolah di STOVIA adalah orang-orang inlander asli. Kebanyakan diantara mereka adalah anak-anak bangsawan dan priyayi yang berasal dari daerah-daerah yang ada di Nusantara. Di STOVIA Soewardi bertemu dengan banyak tokoh besar yang nantinya akan menjadi pemimpin negara seperti Tjipto Mangoenkoesoemo, Raden Mas Wirosembodo, Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Raden Mas Tjokrodirdjo dan lain-lain. Soewardi sangat senang berdiskusi dengan dr. Wahidin Soedirohoesodo mengenai dunia pendidikan dan pergerakan. Pada suatu hari, Soetomo dan Tjipto Mangoenkoesoemo hendak bertemu dengan Ernest Eugene Douwes Dekker dan sempat mengajak Soewardi untuk ikut berkunjung ke rumahnya. Douwes Dekker sangat menentang kebijakan-kebijakan Governemen Hindia Belanda karena menurut beliau mereka hanya memanfaatkan kaum inlander khususnya untuk menguras keringat mereka sekaligus mengambil keuntungan hasil alam dan tidak menyamaratakan masalah pendidikan. Hal inilah yang membuat ketiga pelajar tersebut sangat sering berdiskusi dengan Douwes Dekker. Pada saat itu Douwes Dekker bekerja sebagai jurnalis di surat kabar Bataviaasche Nieuwsbland tujuannya jelas sebagai seorang kolumnis beliau memberikan peringatan keras dan sangat tegas kepada peraturan-peraturan Governemen Hindia Belanda untuk membela kepentingan rakyat. Selang beberapa bulan melalui kegiatan rutin berdiskusi tersebut, pada hari Minggu 20 Mei 1908 bertempat di salah satu gedung STOVIA, Soetomo mendeklarasikan berdirinya organisasi kebangsaan sebagai wujud dari ide-ide dan gagasan dari dr. Wahidin Soedirohoesodo itu diberi nma Boedi Oetomo.
            Keberadaan Boedi Oetomo langsung mendapatkan sambutan yang meriah dari berbagai kalangan, khususnya dari kalangan bangsawan-bangsawan inlander yang peduli dengan nasib dan penderitaan rakyat. Lahirnya Boedi Oetomo dianggap sebagai anugerah bagi masyarakat inlander, karena di saat rakyat tak lagi mampu melawan kebijakan-kebijakan keji yang ditetapkan oleh Governemen Hindia Belanda, anak-anak muda yang belajar di sekolah milik Governemen justru berani menyuarakan kebenaran. Tak heran, jika dalam waktu singkat Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Tjipto Mangoenkoesoemo dan Raden Mas Tumenggung Arjo Tirtokoesomo langsung menjadi bahan perbincangan orang-orang dari berbagai wilayah Hindia Belanda. Hal itu tak lain karena merekalah yang dianggap sebagai orang-orang berjasa dan berotak cerdas, karena berani mengambil sikap tegas menentang kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh bangsa penjajah. Sejak menduduki jabatan sebagai propaganda di Boedi Oetomo, maka Soewardi setiap selesai mengikuti pelajaran di STOVIA, beliau langsung terlibat aktif bersama dengan pengurus Boedi Oetomo yang lain untuk membahas berbagai macam agenda yang ingi dijalankan hingga larut malam.  Hal ini berdampak buruk pada proses kegiatan belajar dan kesehatan Soewardi. Terlalu aktif di organisasi membuat pola makannya tidak terartur, juga kurang tidur, karena kebiasaan seperti itu berlangsung selama berbulan-bulan , maka sehabis ujian tengah semester beliau jatuh sakit. Akhirnya beliau mengirim surat ke Soerjopranoto kangmasnya. Selang beberapa hari Kangmas Soerjopranoto menghampiri Soewardi ke Batavia dan mulai merawatnya. Soerjopranoto adalah orang yang sangat tegas dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang hebat.
Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya hari ujian kenaikan kelas datang juga. Karena selama sakit banyak sekali materi pelajaran yang tertinggal, maka setiap malam selama ujian berlangsung beliau mendatangi teman-temannya untuk belajar bersama. Selama ujian, beliau merasa jika soal-soal yang diberikan biasa-biasa saja. Artinya, beliau merasa yakin jika jawaban yang beliau berikan itu benar dan yakin akan bisa naik kelas. Namun hal tersebut bertolak belakang dengan kenyataan, beliau gagal lulus dan harus bersedia melepaskan beasiswanya dan harus mengulang tahun berikutnya. Pada saat itu hati dan perasaan Soewardi campur aduk beliau sangat sedih dan malu kepada keluarga Pulo Pakualaman dan teman-temannya. Kemudian beliau memutuskan untuk berhenti dari STOVIA dan pulang ke Yogyakarta.
Related image
                                              Sumber : Pinterest.com

Selama di Yogyakarta beliau sering sekali berdiskusi dengan Kangmas  Soerjopranoto dan memutuskan untuk bekerja di Pabrik Gula milik pemerintah yang ada di Kalibogor, Banyumas. Hal itu dilakukan untuk mengobati kekecewaan ayah dan ibu beliau. Pada saat itu, Kalibogor merupakan sebuah daerah yang masih sangat sepi. Berbagai macam tumbuh-tumbuhan hidup subur di sana. Pemandangan alamnya yang hijau tampak rupawan , seumpama permadani yang digelar di bentang semesta. Suasana Pedesaan yang asri dan alami, serta keramahtamahan penduduknya membuat beliau semakin lama makin merasa betah tinggal disana. Namun tak berlangsung lama, disana sangat sering beliau melihat dengan mata kepala sendiri, bagaiamana para pengawas Pabrik Gula Kalibogor memperlakukan para buruh tebu dengan cara-cara yang tidak manusiawi. Melihat rakyat jelata diperlakukan secara keji dan tidak diberi upah jika melakukan kesalahan benar-benar membuat nurani beliau menjerit. Hatinya benar-benar sakit , saat kedua mata melihat para buruh yang lemah dan kasar itu ditampar, ditendang, dicambuk dan dicampakkan. Tak kuat melihat rakyat kecil diperlakukan sewenang-wenang, maka pada pertengahan 1911 beliau menyatak keluar dari pekerjaannya sebagai ahli kimia di Laboratorium Pabrik gula kalibogor dan kembali ke Yogyakarta.
Pada awal januari 1912 Soewardi dan Kangmas Soerjopranoto bergabung dengan organisasi Sarekat Islam.Tujuan utama didirikannya perkumpulan tersebut untuk menyumbangkan semangat perjuangan orang-orang islam, sehingga semanagat rakyat untuk menentang semua bentuk imperialism dan kolonialisme yang terjadi saat itu semakin bertambah besar. Sedikit demi sedikit beliau mulai manata kembali impian dan cita=citanya. Setelah seblumnya merasa gagal dengan semua bentuk perjuangan yang beliau lakukan, maka saat itu beliau merasa yakin untuk menjadikan Sarekat Islam sebagai sarana perjuangan. Hal itulah yang kemudian membuat beliau juga tertarik ikut terjun di dunia kepenulisan. Sebab melalui dunia tulis-menulis itu beliau dapat leluasa untuk menyampaikan gagasan-gagasannya. Lebih dari itu, dengan menulis beliau dapat mencurahkan ide-ide kepada lebih banyak orang. Pada Maret 1912, Raden Mas Tjokroaminoto melalui keputusan kongres Sarekat Islam memutuskan untuk mengangat beliau sebagai ketua Sarekat Islam cabang Bandung. Belum lama menjalankan tugas sebagai ketua , beliau kedatangan Goenawan Mangoenkoesoemo dan Tjipto Mangoenkoesoemo yang masih aktif menjadi pembantu Douwes Dekker di Harian Bataviaasch Nieuwsblad. Dari kedua temannya itu beliau tahu bahwa Douwes Dekker memiliki tujuan besar, yaitu menjadikan Harian Bataviaasch Nieuwsblad sebagai corong perjuangan inlander untuk mewujudkan cita-cita kebangkitan nasional. Dengan adanya tujuan itu, maka tak jarang Surat Kabar Harian milik Governemen itu justru diisi dengan tulisan-tulisan yang bersifat propaganda, seiring dan sejalan dengan tujuan dan harapan kaum pelajar, yang saat itu sedang mencita-citakan kebangkitan nasional, demi mengangkat harkat dan martabat rakyat akan lepas dari jeratan kesengsaraan. Semakin lama hubungan beliau dengan Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker sehingga mereka bertiga disebut Janget Kinatelon ( Tiga Serangkai). Pada saat mereka bertiga merasa yakin jika paham nasionalisme dan revolusioner sudah melekat di hati masyarakat inlander melalui Surat Kabar, maka pada 25 Desember 1912 mereka bertiga sepakat untuk mendirikan sebuah organisasi politik yang bernama Indische Partij. Indische Partij adalah organisasi politik yang bertujuan untuk memperjuangkan kemerdekaan inlander dengan haluan kebangsaan dan kerakyatan dengan semboyannya “ Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.”
Setelah melalui berbagai cobaan mulai dari diasingkan hingga ke Belanda dan selalu mendapatkan pengawasan dari Governemen Hindia Belanda akibat dari tulisannya yang cenderung mengkritik kinerja dan kebijakan-kebijakan pemerintah Belanda dan mempropagandai masyarakat inlander untuk memberontak pemerintah. Akhirnya Soewardi memutuskan melakukan pergerakan melalui jalur pendidikan. Beliau dengan istrinya Soetartinah yang masih memiliki darah Pulo Pakualaman ini merintis sekolah Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa dari nol. Beliau kecewa dengan system pendidikan yang digunakan oleh Pmereintah Blanda terhadap rakyat jajahan. Pasalnya, gaya pendidikan dan pengajaran yang digunakan oleh orang-orang barat itu cenderung bersifat memberi perintah, memberi hukuman, dan menuntut anak didik untuk menjalanan semua aturan-aturan yang telah dibuat oleh pihak sekolah dan pemerintah secara tertib. Beliau yakin, jika anak-anak itu diberi pendidikan yang sesuai dengan karakter bangsanya sendiri, maka wawasan dan pengetahuan mereka akan smeakin luas. Rasa prihatin itulah yang membuat Soewardi semakin bersemangat untuk membesarkan dan mengembangkan sekolah Tamansiswa. Dengan adanya sekolah Tamansiswa beliau sangat berharap, anak-anak inlander dapat menikmati waktu belajar tanpa kehilangan karakternya sebagai anak-anak. Sebab pendidikan dalam pandangan beliau bukan hanya sebatas mengajak anak-anak untuk membaca, menulis, dan menghafal, tapi lebih pada pembentukan sebuah kepribadian anak-anak.
Pendidikan yang terbaik untuk anak-anak inlander adalah memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada mereka untuk meningkatkan potensi dirinya, kemudian mengekspresikannya dengan cara-cara yang kreatif dan bertanggung jawab sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta didik. Tamansiswa mempunyai tiga semboyan yakni Pertama, Ing Ngarsa Sung Tuladha, artinya seorang guru adalah pendidik yang harus memberi teladan yang baik kepada anak didiknya. Kedua, Ing Madya Mangun Karsa, artinya seorang guru adalah pendidik yang selalu berada di tengah-tengah anak muridnya, terus- menerus membangun dan menumbuhkan semangat peserta didik untuk terus menorehkan karya. Ketiga, Tut Wuri Handayani, artinya seorang guru adalah pendidik yang terus-menerus menuntun, memberikan dorongan semangat dan menunjukkan arah yang benar untuk anak didiknya.

0 comments: