SUMPAH
BAMBU RUNCING
“… ini penindasan yang
tidak boleh kita biarkan, tapi jika bamboo runcing kita hancur luluh Terbakar api senjata musuh ,
pada kita masih ada satu kata : LAWAN.”
Ungkapan seorang aktivis dari Widji Thukul ini
sangat menginspirasi saya. Data terkait permasalahan pendidikan yang saya
dapatkan dari berbagai sumber maupun peraturan yang berhubungan dengan
pendidikan di Indonesia ini sangat miris. Di Jakarta, jika kita ingin
mengungguli atau paling tidak menyamai kualitas pendidikan di berbagai negara
maju, kita membutuhkan waktu sekitar 128 tahun untuk bisa setara dengan mereka.
Ini merupakan hasil riset dari dosen di Harvard University. Dalam riset
tersebut coba kita analogikan untuk wilayah yang sulit terjangkau informasi
ataupun pendidikan butuh waktu berapa ratus tahun lagi kita menyamai paling
tidak dengan negara maju, yang Jakarta saja butuh waktu yang cukup lama. Coba
kita renungkan bersama!
Kita selalu terjebak pada lingkaran
setan, sulit mencari solusi yang tidak ada ujung-ujungnya. Sehingga berbagai
upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk bisa menyelesaikan permasalahan
tersebut melalui Nawa Cita kelima yakni “Meningkatkan kualitas hidup manusia
Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan
dan pelatihan dengan Program Indonesia Pintar.” Selain itu juga, dunia
internasional (United Nations) juga tidak diam saja melihat pemerataan
pendidikan di seluruh negara yang masih terbilang jomplang ini membuat SDGs (Sustainable Development Goals). Dengan ada 17 tujuan
global yang diantaranya tujuan keempat berkenaan dengan “ Menjamin
kualitas pendidikan yang inklusif dan merata serta meningkatkan kesempatan
belajar sepanjang hayat untuk semua.”
Pada kondisi ini, saya sangat yakin suatu hari nanti pendidikan akan menjadi
hal yang sangat wah dan paling di
incar oleh banyak orang terkait dengan pentingnya hal ini. Saya mendapatkan
data, Presentase jumlah sekolah menurut jenjang pendidikan dan status sekolah,
tahun ajaran 2016/2017 dalam tabel berikut:
Data lagi, Presentase peserta didik menurut jenjang
pendidikan dan status sekolah, tahun ajaran 2016/2017
Angka Partisipasi Sekolah 7-18
tahun Menurut Provinsi, 2017
Angka
partisipasi kasar (APK) Menurut Karakteristik Demografi dan Jenjang pendidikan,
2017
Persentase siswa umur 5-24 Tahun
yang mengakses internet selama 3 Bulan terakhir menurut jenjang pendidikan,
2016-2017
Persentase
penduduk umur 15 tahun ke atas menurut tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan,
2017
Dari
data yang saya dapatkan melalui ebook “Potret
Pendidikan Indonesia Statistik Pendidikan 2017” bisa disimpulkan bahwa
pemerataan pendidikan disetiap elemen atau lapisan strata masyarakat masih
belum mencapai tujuan. Padahal, Pemerataan pendidikan merupakan amanat
konstitusi. Pasal 28c, ayat (1), UUD 1945 menyatakan bahwa "setiap orang
berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat
pendidikan dan memperoleh manfaat dari
ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat
manusia". Yang memiliki Arti bahwa, pendidikan harus dapat diakses oleh setiap orang dengan tidak
dibatasi oleh umur, tempat, dan waktu. Dengan demikian, pemerintah harus
menjamin keberpihakan kepada peserta didik yang memiliki hambatan fisik,
mental, ekonomi, sosial, ataupun geografis. Saat memasuki jenjang perguruan
tinggi selalu presentasi angkanya akan jomplang
sangat jauh dibandingkan dengan jenjang sebelumnya. Padahal kalau kita
mengetahui bahwa pemerintah sudah menyediakan fasilitas yang memudahkan
masyarakat untuk bisa mengenyam pendidikan ke jenjang pergurua tinggi,
diantaranya BEASISWA. Beasiswa
adalah tunjangan
yang diberikan kepada pelajar atau mahasiswa sebagai bantuan biaya belajar
(KBBI). Baik berupa beasiswa prestasi, kurang mampu ataupun afirmasi hal
tersebut sudah menjadi rencana anggaran yang sudah disediakan untuk masyarakat,
baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Tidak ada alas an bagi kita
untuk tidak melanjutkan pendidikan kita ke jenjang selanjutnya dengan dalih
faktor ekonomi. Hal yang demikian sempat saya alami, waktu saya lulus aliyah di
MAN 1 Gresik. Melihat background dari kedua orang tua saya yang dibilang
kalangan kelas ke bawah saya tidak mudah menyerah untuk bisa melanjutkan
pendidikan saya. Saya terinspirasi dengan perkataan Widji Thukul (yang
kalimatnya didepan) bahwa kita jangan pernah mau ditindas oleh kebodohan,
karena kebodohan akan membuat bangsa kita ini nantinya akan dicap sebagai kacung oleh negara lain, satu hal yang
harus kita lakukan adalah LAWAN
kebodohan tersebut dengan pendidikan yang lebih tinggi. Dengan tekad dan niat
yang kuat saya mencoba untuk melanjutkan pendidikan saya ke perguruan tinggi,
dan Alhamdulillah Allah merestui saya untuk bisa berkuliah di kampus perjuangan
ITS dengan mendapatkan beasiswa.
Dari sini saya mulai paham betul kenapa
kita harus kuliah. Selama saya menjadi mahasiswa ada banyak hal yang saya
dapatkan, diantaranya : sekarang kita memasuki era digital, dimana kita harus
bisa menguasai teknologi agar kita tidak tergerus dan terbuang oleh kondisi
lingkungan sekitar dengan kuliah kalian akan mendapatkan setidaknya pengetahuan
dasar tentang hal ini baik belajar sendiri maupun dengan orang lain. lingkungan
sangat mendorong kalian untuk bisa menguasai digital era ini yang mencantumkan
berbagai pokok yakni ide, inovasi dan kreasi. Kemudian, kita dituntut untuk
bisa berpikir secara kritis dalam merespon permasalahan. Setelah itu, peka
terhadap isu-isu yang sedang berkembang, lain halnya dengan menjadi siswa kita
hanya di tuntut untuk belajar mata pelajaran dan lulus. Hal-hal yang lain
terserah kalian. Open minded, tidak mudah menerima pendapat orang lain, sebelumnya
kita harus menfilter terlebih dahulu perkara yang sedang berkembang. Kemudian
bisa mengekspresikan sesuai dengan kemampuan atau passion diri kita sendiri.
Berikut adalah beberapa hal yang bisa kalian dapatkan ketika berkuliah.
Kemudian hal apa yang bisa kita lakukan
supaya orang-orang lain bisa mendapatkan kesempatan yang kita dapatkan. Satu
hal yang saya lakukan dengan menjadi inspirator
buat mereka. Saya dengan penerima manfaat beastudi etos setiap tahun senantiasa
berkunjung ke sekolah-sekolah yang sulit terjangkau oleh informasi baik berupa
perguruan tinggi maupun beasiswa. Satu maksud dan tujuan kami yakni menyebarkan
pengalaman kami untuk sebagai pemantik buat mereka agar punya kesempatan
dan keinginan untuk kuliah.
(Sumber : Foto Pribadi)
(sumber : Exchange2k18)
Banyak sekali pembelajaran yang bisa kita lakukan
dari hal kecil, yakni mendorong orang lain untuk bisa menjadi yang lebih baik.
Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi
orang lain. low hanging fruit
(ambillah buah yang paling bawah) lakukan dengan bertahap dan proses tersebut
akan mengajarkan kita bagaimana caranya bersyukur yang benar dan bersabar
dengan ikhlas. Tujuan kita adalah membantu Indonesia menjadi negara yang
memiliki pendidikan yang bermutu dan tidak tersekat oleh adanya kaum proletar
dan borjuis. Semua kalangan bisa mendapatkan fasilitas pendidikan yang sama.
Kita sekarang tinggal di era digital yang seyogyanya harus mampu menguasai ilmu
pengetahuan dan teknologi. Melalui pendidikan inilah investasi kita dimasa
depan agar bisa menyiapkan segala keperluan di kemudian hari dan siap menyambut
bonus demografi 2050 dengan kualitas yang bermutu dan berkarakter. Saya yakin
kita bisa menjadi negara yang memiliki perekonomian yang baik, teknologi yang
mampu bersaing dengan negara eropa, kualitas sumber daya manusia yang melebihi
jepang, china dan eropa. Entrepreneur yang cemerlang dan kompeten. Melalui
pengembangan teknologi yang canggih berupa start-up dan platform yang berbasis
pendidikan dan kemampuan internet yang sudah menjangkau hingga ke pelosok kita
akan mengalami percepatan (a) untuk memangkas riset dari dosen Harvard
University terkait dengan pendidikan dengan negara maju. Dengan itu semua kita
tidak lagi menjadi orang yang berjiwa kacung akibat aspek historis penjajahan
tempoe doloe.
Ada beberapa hal lagi yang menjadi
masalah adalah kemampuan minat baca kita masih sangat lemah. Menurut data
statistik dari UNESCO, dari total 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60
dengan tingkat literasi rendah. Peringkat 59 diisi oleh Thailand dan peringkat
terakhir diisi oleh Botswana. Sedangkan Finlandia menduduki peringkat pertama
dengan tingkat literasi yang tinggi, hampir mencapai 100%. Data ini jelas
menunjukkan bahwa tingginya minat baca di Indonesia masih tertinggal jauh dari
Singapura dan Malaysia (kumparan,2018).
(sumber :
Kumparan.com)
Ada
beberapa faktor yang menjadikan Indonesia malas membaca, diantaranya: kebiasaan yang ditanamkan masih kecil.
Sekarang eranya sudah generasi milineal yang mau kemana-mana yang dibawa adalah
Handphone, bukan buku. Kaum belia sampai tua kebanyakan lebih memprioritaskan
update media sosial dibandingkan dengan membaca buku. Kemudian produksi buku
dan harga buku yang (katanya) lebih mahal. Daripada saya membeli buku mendingan
buat beli kouta internet. Kita masih belum mempunyai trigger pada diri kita
betapa pentingnya buku bagi kita sebagai jendela cakrawala. Kemampuan literasi
yang buruk akan mendorong kita untuk berpikir dangkal, tidak bisa memikirkan
sebab akibatnya, kita cenderung instan dan mengambil sebagian berita yang
sedang berkembang dan kemudian mudah sekali menjudge orang lain. mudah untuk
diprovokatori terkait berita yang sedang hangatnya diperbincangkan. Mudah ikut
arus, pagi ikut A siang ikut B dan malam kemudian ikut C. tidak punya prinsip
yang matang dan dasar yang dalam. Tak sedikit teman-teman kita juga resah
dengan hal ini semua dan kemudian membuat komunitas penggiat literasi untuk
menumbuhkan citra dan cinta akan literasi tersebut agar mudah dan menyenangkan.
Diantaranya yang saya ketahui adalah Sabda Perubahan, gubuk tulis, Gerdu Baca
Nusantara dan lain-lain. mereka membuat aksi turun kejalan yakni dengan membuka
lapak untuk membaca gratis di emperan jalan.
(Sumber : Foto Pribadi)
“Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum
Binasa.” Ungkapan Widji Thukul
Oleh
: M. Syifaut Tamam